Senin, 28 Mei 2012

CERPEN : Persahabatan Singkat

Created by : Yunita Ariani Nasution


Betapa enak nya menjadi orang kaya.Semua ada. Semua kemauan akan terpenuhi. Semua Tersedia  untuknya, seperti Dina, dia anak orang kaya raya. Diantar jemput naik mobil mewah serta supir nya.
Meskipun dia hidup bermewah mewahan, tetapi ia tidak sombong kepadaku atau kepada teman teman kami yang lainnnya. Dia mencerminkan sifat orang tua nya yang sangat ramah. Dia tidak pernah memilih soal bergaul. dia selalu bergaul dengan siapa aja yang ada didekatnya.

Jadi,

Di pagi hari saat aku memasuki ruang kelas, biasanya sebelah ku tidak ada orang, tapi tiba tiba ada tas dan seorang cewek, aku gak kenal, aku tidak pernah melihatnya di sekolah ini. dengan memberanikan diri aku menyapanya.
"Hai, kamu siapa ya?"
"Hai, aku murid baru dikelas ini, perkenalkan nama ku Dina" Jawab Dina sambil menjulurkan tangan kepadaku.
Kami bersalaman.
"Oh, murid baru toh, Aku cika. kupikir ntah siapa tiba-tiba ada ddisebelahku, sorry ya. bukan maksud apa apa tadi".
"Oh iya iya gapapa kok, santai aja" Jawab Dina dengan memberi senyuman lebar kepadaku.

"TETTT" bunyi bell sekolah berbunyi. Kami semua duduk dengan rapi menunggu bu Rasmi guru pelajaran Bahasa Indonesia serta guru wali kelas kami.
"Selamat pagi anak anak"
"Selamat pagi buuu" jawab kami serempak.
"Katanya dikelas ini ada murid baru yaa? ayo perkenalkan diri kamu." Kata bu Rasmi.
Tanpa basa basi Dina langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya.

"Hai teman-teman perkenalkan nama saya Dina Agrina, saya pindahan dari Jakarta,.......dst" Ucap dina memperkenalkan dirinya.

Oh iya, saat Dina masuk ke kelas ini, semua mata anak cowok di kelas kami tertuju padanya. Karena Dina ini sangat memenuhi karakter cowo cowo dikelas kami pastinya. Dia tinggi, berkulit putih agak ke merahjambuan, rambut pirang, tajir banget, hidung mancung. Dia pasti sangat memenuhi karakter cowok cowok dikelas kami.

(Saat Bel Istirahat)
"Din, kekantin yuk, sekalian kita keliling keliling sekolah ini, biar kamu tau seisi sekolah ini"
"Boleh, makasih ya udah ngajak aku" jawab Dina dengan ramah.
Aku sedikit heran kok bisa yaa orang secantik dan sekaya dia sangat ramah dan baik hati. hebat hebat ucapku dalam hati. 

Setelah capek kami keliling keliling sekolah, aku dan dina kembali kekelas dan duduk seperti biasa, menunggu bell masuk.
"Din, aku heran deh sama kamu..."
"Heran kenapa cik?" Jawabnya penasaran.
"Ga ada, aku heran aja. Kenapa orang secantik dan sekaya kamu sangat baik hati, sedangkan yang biasa biasa aja malah sombong" ucapku
Dia hanya tertawa kecil.
"Kok tertawa sih? aku serius. kok bisa ya. haha"
"Gada apa apa kok cika, aku biasa biasa aja,aku memang kayak gini dari dulu" ujarnya sambil tersenyum.
"Pasti kamu punya banyak temen yaa? yakan.."
"Ga juga, dulu waktu SMP aku punya banyak temen, tapi cuma karna harta aku, jadi pernah dulu papaku bangkrut, karena mereka tau, jadi satu per satu mereka semua menjauh." dengan muka sedikit sedih.
"Eh kok aku jadi curhat ke kamu ya, sorry yaa.." katanya lagi.
"Gak apa apa kok din, kan gapapa sih kita saling curhat, bener ngga?" jawabku.
"Iya juga sih cik hehe" sambil tersenyum kepadaku.

Setiap hari kami selalu bersama dan bersama, pada suatu saat, selama seminggu Dina ga dateng. Aku bingung. Aku khawatir kepadanya. Di bm ga deliv, telfon hp nya gak aktif, dan aku mencoba nanya pada guru wali kelas ku.
(Diruang guru)
"bu, Dina kenapa ga dateng dateng selama seminggu lebih?" tanyaku penasaran.
"Tidak apa apa cika, kamu tenang aja" jawab bu Rasmi.
Aku mengucap dalam hati "Pasti ada yang di sembunyiin".
"Oke bu, makasih ya bu'' ucapku sambil meninggalkan ruang guru.
Aku berfikir saat pulang sekolah aku harus kerumah dina, harus.

"TET!" Bunyi bell saat pulang sekolah. Tanpa basa basi aku langsung nyetop taksi dan kerumah Dina. Rumah nya dijalan Anggrek No.5

Saat taksi berhenti tepat dirumah Dina aku langsung mencet bell dan manggil manggil dina.
"Dina!Dina!" ucapku khawatir.
"Maaf, mbak siapanya non Dina yah?" kata pembantu nya Dina, Bi Sri.
"Bi, aku temen nya Dina, Cika yang sering kesini bareng dina bi."


"Oh iya mbak, silahkan masuk"

Tanpa basa basi apa apa, aku langsung naik ke atas dan langsung ke kamar dina. aku seperti ini udah biasa, udah seperti rumah sendiri karna aku hampir setiap hari kerumah Dina.
"Din, kamu kenapa?" ucapku sambil melihat Dina terbaring lemas, pucat, dan lesu.
"Kamu kenapa Din?" ucapku mengulangi
Dina hanya tersenyum dan berkata:
"Gak apaapa kok cik, gausah khawatir gitu" ucapnya dengan suara pelan.


"Apanya yang gak apa apa din, kamu lemes pucat gini, apa gak dibawa ke dokter?"

"Udah gapapa cik, aku udah bosan ke dokter, bosan" dina menjawab dengan tertawa kecil. Dina emang baik sekali, saat dia sakit dia masih sempat tertawa buat membahagia kan ku. 

Dengan penasaran aku keluar kamar Dina, dan langsung kebawah menemui mama nya Dina.


"Tan, ada apa dengan Dina tan? jujur aja sama cika tan"

Dengan air mata berlinang di mata Mamanya Dina, ia menjawab:
"Cika, sudah lama Dina itu mengedam penyakit leukimia, sejak SMP dia sering seperti ini, tapi dia tidak pernah menangis atau mengeluh sedikitpun" ucap mama nya Dina sambil menangis.

"Semalam Cika ke rumah sakit, dokter memvonis dia Leukimia udah stadium 4, hidupnya diperkirakan tinggal 4 hari lagi" jawab lagi mama nya Dina sambil  nangis dan terduduk lemas.
"Apa tan? leukimia? tinggal 4 hari lagi?" tanpa disengaja air mata ku jatuh membasahi pipiku. Aku tak tau harus bagaimana lagi. aku lari ke kamar dina.
"Din, kamu kok ga bilang kalau kamu sakit?"
"Aku ga sakit cik" sambil tersenyum lebar kepadaku dan aku menangis.
"Yaudah, aku pulang dulu ya. aku di cariin dirumah sama mamaku, kamu cepat sembuh ya din, aku sangat sunyi disekolah ga ada temen" ucapku berusaha tidak menangis.
"Iya iya cika, kamu tenang aja, aku sehat sehat aja kok, hati hati ya di jalan"
"Iya Din, makasih ya. sekali lagi, kamu cepet sembuh ya" jawabku
Dina senyum kepadaku.

(Sampai dirumah)
Aku langsung masuk kamar, dan menangis membayanmgkan bagaimana kalau tidak ada Dina lagi, dia sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Aku terus menangis jika membayanginya.

BEBERAPA HARI KEMUDIAN.

"Kringgggg" suara hp ku berdering saat aku sedang tidur tepat jam 04:00 WIB. Aku terkejut ternyata yang nelpon adalah mamanya Dina!
Dengan meyakinkan diri aku menjawabnya.
"Halo tan, ada apa dengan Dina?" ucapku hampir menangis.
Terdengar suara mama nya Dina menangis seperti orang gila.
"Cika, Dina.. cika, dinaa..."
"Kenapa dengan dina tan?" aku yakin pasti ini kabar buruk.
"Dina, dina..Dina meninggal cik" 
"Meninggal?" tanpa sengaja aku menjatuhkan bb nya dan langsung siap siap menuju kerumah Dina dengan mata bengkak yang sedang menangis.



(SAMPAI DIRUMAH DINA)

aku masuk, dan melihat Dina yang tidak bernyawa, pucat dan sekujur  tubuhnya ditutupin kain putih. Aku tak tahan meliatnya aku langsung menangis dan memeluk mama nya dina. Sambil menangis aku berkata:


"Yang sabar ya tante, Dina pasti tenang, dia orangnya sangat baik"

"Iya iya cik" mama nya Dina mencoba buat tenang.

Hari hari tanpa sahabat ku Dina terasa sepi, tak ada yang membuatku tertawa disekolah seperti biasanya. Aku menjadi sering membayangkan dina yang dulu dan langsung menangis tanpa disengaja. Ternyata persahabatan aku dengan Dina persahabatan singkat sampai mati. Iya, ini namanya persahabatan singkat seperti Aku dan Dina..




1 Comments:

Virgo M Lumbanbatu
16 Januari 2014 05.48

ini kisah nyata tak ?
sedih banget deh baca cerpennya kamu :'(

Poskan Komentar

About Me

Foto Saya
Yunitaaaaaa
SMA N 2 Medan. Id Line/Wechat : yunitaariani. pin:305BA92A thanks ;]
Lihat profil lengkapku

Followers

Popular Posts